Zaman Purbakala

Zaman purba adalah zaman dahulu / zaman ribuan atau jutaaan tahun yang lalu dimana ditinggali oleh manusia purba (manusia kuno) yang hidupnya belum mengenal tulisan dan hidupnya sangat bergantung dgn alam.

Minggu, 04 Desember 2022

PENEMUAN FOSIL WANITA INDONESIA BISA UBAH SEJARAH MANUSIA PURBA



MANUSIA PURBA - Jejak genetik dalam tubuh seorang wanita muda yang meninggal 7.000 tahun lalu memberikan petunjuk pertama bahwa pencampuran antara manusia purba di Indonesia dan mereka yang berasal dari Siberia, terjadi jauh lebih awal dari yang diperkirakan sebelumnya.

Analisis asam deoksiribonukleat (DNA) atau sidik jari genetik dari seorang wanita di pemakaman ritual di gua Indonesia berkontribusi mengubah teori tentang migrasi manusia purba di Asia. Penelitian ini diterbitkan dalam jurnal ilmiah Nature pada Agustus lalu.

"Ada kemungkinan bahwa wilayah Wallacea bisa menjadi titik pertemuan dua spesies manusia, antara Denisovans dan homo sapiens awal," kata Basran Burhan, seorang arkeolog dari Universitas Griffith Australia, dikutip dari Reuters.

Burhan, salah satu ilmuwan yang ikut dalam penelitian tersebut, merujuk pada wilayah Indonesia yang mencakup Sulawesi Selatan, tempat ditemukannya jasad dengan batu di tangan dan panggulnya, ditemukan di kompleks gua Leang Pannige.

Arkeolog dari Universitas Hasanuddin, Griffith University dan Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) mengunjungi Gua Leang Panninge saat penelitian batu purba di Kecamatan Mallawa Kabupaten Maros, Provinsi Sulawesi Selatan, Indonesia, 19 September 2021. Foto: Reuters

Denisovans adalah sekelompok manusia purba yang dinamai dari sebuah gua di Siberia tempat jenazah mereka pertama kali diidentifikasi pada tahun 2010. Para ilmuwan hanya memahami sedikit tentang mereka, bahkan detail penampilan mereka.

DNA dari Besse, demikian para peneliti menamai wanita muda di Indonesia (berasal dari istilah bayi perempuan yang baru lahir dalam bahasa daerah Bugis), adalah salah satu dari sedikit spesimen yang terpelihara dengan baik yang ditemukan di daerah tropis.

Para ilmuwan menyebutkan, ini menunjukkan dia keturunan dari orang-orang Austronesia yang umum di Asia Tenggara dan Oseania, serta sebagian kecil Denisovan.

"Analisis genetik menunjukkan bahwa penjelajah pra-Neolitikum ini mewakili garis keturunan manusia yang berbeda yang sebelumnya tidak diketahui," kata mereka.

Iwan Sumantri, dosen arkeologi dan antropologi di Universitas Hasanuddin, menjelaskan bagian dari kerangka purba Besse yang digali dari gua Leang Paningge, di laboratorium Universitas Hasanuddin di Makassar, provinsi Sulawesi Selatan, Indonesia, 18 September 2021. Foto: Reuters

Karena para ilmuwan sampai saat ini mengira orang Asia Utara seperti Denisovans baru tiba di Asia Tenggara sekitar 3.500 tahun lalu, DNA Besse mengubah teori tentang pola migrasi manusia purba.

Penemuan ini juga dapat mengungkap wawasan tentang asal usul orang Papua dan penduduk asli Australia yang memiliki DNA Denisovan.

"Teori tentang migrasi akan berubah, teori tentang ras juga akan berubah," kata Iwan Sumantri, dosen Universitas Hasanuddin di Sulawesi Selatan, yang juga terlibat dalam proyek penelitian tersebut.

Dia menambahkan, jenazah Besse mengungkapkan tanda pertama Denisovans di antara Austronesia, yang merupakan kelompok etnis tertua di Indonesia.

"Sekarang coba bayangkan bagaimana mereka menyebarkan dan mendistribusikan gen mereka untuk mencapai Indonesia," kata Sumantri.

HOMOBODOENSIS BISA MENGUBAH SEJARAH NENEK MOYANG MANUSIA

ZAMAN PURBA - Runutan sejarah manusia zaman purba mengalami perkembangan dengan adanya temuan-temuan baru. Keberadaan Homo Bodoensis misalnya, akan mengubah sejarah nenek moyang manusia.

Dikutip dari IFL Science, Minggu (31/10/2021) tim ilmuwan internasional mengajukan kasus untuk mengklasifikasikan temuan spesies baru manusia punah, Homo bodoensis, yang merupakan nenek moyang langsung dari kita, manusia modern.

Dalam jurnal Evolutionary Anthropology Issues News and Reviews, identifikasi baru mereka adalah penilaian ulang terhadap fosil-fosil yang ditemukan di Afrika dan Eurasia yang berasal dari 774 ribu hingga 129 ribu tahun yang lalu.

Tahun tersebut adalah periode waktu penting kemunculan spesies kita sendiri, yaitu Homo sapiens di Afrika dan Homo neanderthalensis di kerabat terdekat manusia, di Eropa.

Pada periode ini, Pleistosen Tengah, sering disebut 'kekacauan di pertengahan' karena begitu banyak klasifikasi spesies yang diragukan dan diperdebatkan.

Dari diagram 'Evolusi Manusia' klasik, pemahaman evolusi manusia saat ini bukanlah silsilah keluarga yang rapi, tetapi perjalanan yang terjalin dan berantakan dan ada kesenjangan pengetahuan yang begitu besar. Para peneliti berharap silsilah yang berantakan itu bisa dijernihkan oleh penelitian terbaru ini.

Tim berpendapat bahwa banyak fosil Eurasia dan Afrika dari Pleistosen Tengah sebelumnya telah diberi label sebagai Homo heidelbergensis, dianggap oleh beberapa orang sebagai nenek moyang terbaru antara manusia modern dan Neanderthal, atau Homo rhodesiensis, spesies yang sangat mirip dengan H. heidelbergensis.

Dalam studi baru, tim mengajukan ide bahwa sebagian besar fosil ini bisa hanya dapat didefinisikan sebagai spesies H. bodoensis. Mereka berpendapat bahwa H. heidelbergensis adalah label yang berlebihan karena banyak yang ditemukan sebagai Neanderthal awal, bukan spesies induk manusia modern dan Neanderthal.

Lebih jauh lagi, nama tersebut tidak memperhitungkan fosil hominin lain dari Asia timur sekitar waktu ini. Sama halnya dengan label H. rhodesiensis, label ini dianggap masih kurang jelas dan tidak diterima secara luas oleh palaeoanthropolog.

Nama itu juga menimbulkan beberapa kontroversi karena hubungannya dengan Cecil Rhodes, seorang imperialis Inggris abad ke-19 yang terkenal, raja pertambangan, dan politisi yang memainkan peran utama dalam kengerian kolonial Afrika selatan.

Sedangkan nama bodoensis, merujuk pada lokasi di mana salah satu fosil ditemukan di Bodo D'ar, Ethiopia. Di bawah klasifikasi baru, H. heidelbergensis dan H. rhodesiensis akan efektif dihilangkan.

Sebaliknya, H. bodoensis akan digunakan untuk menggambarkan sebagian besar manusia Pleistosen Tengah dari Afrika, serta beberapa di Eropa Tenggara. Tim berpendapat, fosil yang tersisa di Eurasia dapat direklasifikasi sebagai Neanderthal.

Tentu saja, tidak semua orang setuju dengan pendekatan 'satu ukuran untuk semua' ini. Namun, tim berpendapat itu adalah langkah yang diperlukan untuk mengatasi kekacauan silsilah dan membuatnya lebih mudah untuk berkomunikasi tentang waktu penting dalam sejarah hominin ini.

"Berbicara tentang evolusi manusia selama periode ini menjadi tidak mungkin karena kurangnya terminologi yang tepat yang mengakui variasi geografis manusia," kata Dr Mirjana Roksandic, penulis utama studi dan paleoantropolog di University of Winnipeg.

"Menamai spesies baru adalah perkara besar, karena Komisi Internasional untuk Tata Nama Zoologi mengizinkan perubahan nama hanya di bawah aturan yang ditetapkan dengan sangat ketat. Kami yakin yang satu ini akan bertahan lama, nama takson baru akan hidup hanya jika peneliti lain menggunakannya," yakinnya.

BUMI DIDIAMI OLEH PARA RAKSASA JIKA TIDAK ADA MANUSIA



ZAMAN PURBA - Manusia benar-benar mengubah Bumi dalam cara yang belum pernah terjadi di zaman purba berkat kepandaiannya. Dari kota metropolitan sampai peninggalan zaman dulu seperti piramida. Nah bagaimana jika manusia tidak pernah ada di Bumi ini?

Ilmuwan mengatakan dalam skenario itu, Bumi akan penuh dengan alam liar dan begitu banyak spesies hewan, termasuk para raksasa. "Saya kira akan ada jauh lebih banyak tempat vegetasi dengan hewan yang melimpah, termasuk yang besar-besar di seluruh benua kecuali antartika," kata Trevor Worthy, profesor di Flinders University, Australia.

Dikutip dari Live Science, bisa jadi pula spesies manusia lain seperti Neanderthal yang telah punah akan berkembang. Namun tak menutup kemungkinan mereka juga akan banyak mengubah Bumi.

Manusia memang telah mengubah dunia di mana pada saat yang sama, membuat banyak spesies punah karena perburuan ataupun perusakan habitat. Angka kepunahan Bumi pada saat ini diestimasi seratus kali lebih banyak dibandingkan jika manusia tidak ada.

"Nenek moyang saya bisa menyaksikan ribuan kawanan burung parkit di alam, kakek saya bisa melihat sampai ratusan, ayah saya melihat hanya sedikit dan sekarang saya beruntung jika bisa melihat satu atau dua di hutan," kata Worthy mengilustrasikan.

Tanpa adanya manusia, Bumi akan jauh lebih liar alamnya dan binatang besar akan tetap ada. Sebut saja burung raksasa yang hidup di Selandia baru jutaan tahun silam setinggi 3,6 meter, barangkali tetap eksis.

Pada saat manusia sampai ke Selandia baru, semua spesies burung moa punah dan juga 25 spesies vertebrata lain. Jadi memang luar biasa dampak yang diakibatkan manusia pada Bumi.

Hewan-hewan yang punah pun akan tetap hidup andai manusia tidak berkuasa. Sebut saja singa gua atau Panthere spelea di Eropa, yang terakhir kali hidup 12 ribu tahun silam, masih akan bertahan sampai hari ini.

"Di dunia tanpa manusia, akan ada jauh lebih banyak keragaman binatang mamalia besar dan cenderung akan ada banyak habitat terbuka," kata Soren Faraby, pakar dari University of Gothenburg, Swedia.

MANUSIA PURBA NEANDERTHAL GAET NOBEL



ZAMAN PURBA - Nobel Kedokteran telah dianugerahkan kepada ilmuwan asal Swedia, Profesor Svante Paabo, atas risetnya terhadap evolusi manusia. Komite Nobel menyebut dia berhasil mengerjakan riset yang dianggap tak mungkin, yaitu memetakan kode genetis manusia purba Neandhertal.

Tak hanya itu, Paabo juga berhasil melacak keluarga dekat lain dari spesies kita, yaitu Denisovans. "Saya sangat terkejut, saya tidak mengharapkan hal ini," kata Paabo mengenai kemenangannya.

Seperti dikutip detikINET dari BBC, pada tahun 1990, riset tentang kode genetik manusia mulai marak, namun mengandalkan sampel DNA yang baru. Nah, Paabo malah tertarik pada tulang manusia purba Neandhertal berusia 40 ribu tahun dan berhasil memetakannya.

Dari riset itu, disimpulkan bahwa Neanderthal, yang dulu habitatnya mayoritas di Eropa dan Asia Barat, berbeda dari manusia modern dan simpanse. "Dengan mengungkap perbedaan genetik yang membedakan manusia saat ini dari manusia purba yang sudah punah, penemuannya menjadi basis eskplorasi tentang apa yang membuat kita unik sebagai manusia," sebut Komite Nobel.

Dari penelitiannya, terungkap pula bahwa Homo Sapiens dan Neanderthal pernah punya anak bersama. Pada hari ini, sekitar 1 sampai 4% DNA manusia modern berasal dari Neanderthal dan berdampak pada kemampuan manusia merespons infeksi.

Kontribusi lain Paabo adalah pada tahun 2008, ketika ditemukan tulang jari berusia 40 ribu tahun di Siberia. Paabo berhasil membuat sekuens sample DNA dan hasilnya menunjukkan eksistensi manusia purba hominin yang dulu tidak diketahui, yaitu Denisovans.

Ternyata, Denisovans juga berkembang biak dengan Homo Sapiens. Pada hari ini di sebagian wilayah Asia Tenggara, ada manusia yang punya DNA Denisovans sampai 6%.

Warisan genetis ini antara lain membantu badan manusia bertahan di kondisi oksigen rendah dan hidup di area tinggi, seperti orang Tibet.

APAKAH ADA KEHIDUPAN LAIN SEBELUM ERA MANUSIA



ZAMAN PURBA - Adakah kehidupan maju di Bumi sebelum era manusia muncul? Pertanyaan ini sebenarnya sering menjadi hal yang menarik untuk dibahas, sebab ada yang mengatakan bahwa bisa jadi ada manusia sebelum peradaban kita dimulai namun hancur dan digantikan oleh kita.

Adam Frank, Professor of Astrophysics di University of Rochester, memberikan pandangannya mengenai hal ini dalam sebuah tulisan di The Atlantic. Pertama, kita bisa mengira-ngira soal keberadaan peradaban sebelum kita melalui penelusuran bekas atau puing-puing bangunan yang ada.

"Ketika bicara tentang bukti langsung dari peradaban industri seperti kota, pabrik, dan jalan, catatan geologis tidak pernah melewati apa yang disebut Periode Kuarter pada 2,6 juta tahun yang lalu. Misalnya, bentangan permukaan kuno berskala besar tertua terletak di Gurun Negev. Ini pun 'baru' berusia 1,8 juta tahun," ujar Prof Frank.

Prakiraan tentang keberadaan manusia pertama di Bumi memang masih dipertanyakan. Namun, diyakini manusia (purba) hadir pada periode Kuarter atau pada akhir era Neozoikum.

Tapi, jika kita mencoba menelusur lebih jauh -- katakanlah memang ada kehidupan sebelum kita -- kemungkinan bangunan tersebut kini sudah berubah menjadi debu.

Lantas apa yang bisa dijadikan patokan untuk mencari bukti keberadaan kehidupan sebelum manusia? Mungkin saja bisa dilakukan penelitian pada sedimen yang ada di Bumi. Akan tetapi, siapa yang bisa memastikan berapa lama sedimen ini mampu bertahan?

Prof Frank menambahkan, selain sedimen, bukti keberadaan manusia sebelum kita bisa saja ditelusur dari jejak emisi yang dilepaskan ke Bumi. Yang menarik, pada 56 juta tahun yang lalu, Bumi melewati Paleocene-Eocene Thermal Maximum (PETM). Selama PETM, suhu rata-rata planet naik setinggi 15 derajat Fahrenheit di atas apa yang kita alami hari ini. Bahkan, suhu musim panas yang khas di kutub mencapai hampir 70 derajat Fahrenheit. Akan tetapi, tidak bisa disimpulkan ini karena adanya aktivitas dari peradaban lama.

"Apakah peristiwa ini merupakan indikasi dari peradaban industri sebelumnya? Hampir pasti tidak," tutupnya.

Jumat, 02 Desember 2022

JEJAK TSUNAMI KALA ASTEROID PINAHKAN DINOSAURUS



ZAMAN PURBAKALA -  Fenomena masuknya asteroid yang memusnahkan dinosaurus 66 juta tahun lalu juga menimbulkan tsunami 1,5 kilometer yang menghantam wilayah Amerika Utara, dan memusnahkan hampir 75 persen spesies di Bumi.

Selama beberapa tahun terakhir, para ilmuwan telah menemukan banyak jejak dari dampak bencana ini. Hal itu memberikan rincian yang lebih besar dari dampak yang terjadi, di antaranya yakni asap yang mengepung Bumi hingga kebakaran lahan hutan seluas 1.500 kilometer di wilayah tumbukan.

Pada 2019, sebuah tim juga menemukan catatan fosil, termasuk bukti puing-puing yang tersapu oleh tsunami sebesar 11 skala richter (SR) yang dihasilkan dari tumbukan itu. Terbaru, para peneliti menemukan lubang besar 1.500 meter di bawah tempat yang kini menjadi wilayah Louisiana AS.

"Airnya sangat dalam sehingga begitu tsunami berhenti, gelombang reguler badai tidak dapat mengganggu apa yang ada di sana," kata ahli geologi Universitas Louisiana Gary Kinsland, mengutip Science Alert.

Para ilmuwan telah menghabiskan beberapa dekade mencari bukti peristiwa tingkat kepunahan itu, termasuk menemukan dampak dramatis asteroid saat menabrak tempat yang sekarang menjadi Semenanjung Yucatan di Meksiko.

Kinsland dan rekan menganalisis data pencitraan seismik untuk pusat Louisiana, yang diperoleh dari perusahaan bahan bakar fosil. Mereka menentukan pusat riak yang tercetak membentuk garis lurus ke kawah Chicxulub dan orientasinya konsisten dengan dampak yang dihasilkan.

Ahli lain mengungkapkan selain tsunami dahsyat 1,5 kilometer, debu masif juga sempat menghalangi sinar Matahari yang membuat temperatur udara global anjlok.

Pakar geofisika dari University of Texas, Sean Gullick, mengutip Science Mag, mengatakan penelitian menggunakan pencitraan seismik yang biasa dipakai oleh perusahaan minyak.

Para peneliti menggali sampai ke lapisan pada waktu tabrakan asteroid terjadi. Dari situ, berhasil ditemukan riak dalam bentuk fosil yang disimpulkan sebagai jejak tsunami dari kawah tumbukan asteroid.

Peneliti mengungkapkan saat tsunami menghantam daratan, berton-ton bebatuan hancur. Beragam jenis ikan dan dinosaurus dibawa oleh gelombang tsunami itu dan fosilnya tersimpan jauh di daratan.

Tabrakan asteroid menguapkan sulfur di bebatuan, kemudian terbentuk aerosol sulfate di atmosfer dan menyebabkan pendinginan temperatur dalam skala global.

Ada sekitar 325 miliar metrik ton sulfur dihasilkan sebagai imbas hantaman asteroid yang mengakibatkan perubahan iklim tersebut. Imbas bencana alam dahsyat tersebut Dinosaurus akhirnya punah.

ASAL USUL ASTEROID MENGHANTAM BUMI MUSNAKAN JEJAK DINOSAURUS

ZAMAN PURBAKALA -  Para peneliti dari Southwest Research Institute (SwRI), Texas berhasil melacak asal mula asteroid yang menabrak Bumi 60 juta tahun lalu dan memusnahkan dinosaurus.

Mereka melacak jejak asal mula asteroid jutaan tahun yang lalu ini menggunakan kombinasi simulasi geologi dan komputer.

Kombinasi keduanya membuat tim peneliti SwRI bisa memecahkan misteri arkeologi dan astronomi yang sudah berlangsung jutaan tahun lalu. Salah satunya melacak jejak asteroid yang membunuh dinosaurus.

Sekitar 66 juta tahun yang lalu, sebuah asteroid besar berukuran sekitar 10 kilometer menabrak Bumi di dekat Meksiko. Benturan ini menyisakan kawah Chicxulub, berdiameter 180 kilometer di semenanjung Yukatan, Meksiko.

Peristiwa tersebut menyebabkan kepunahan massal yang memusnahkan hampir 75 persen semua spesies tumbuhan dan hewan termasuk dinosaurus non-unggas.

Kini dengan menggunakan studi pemodelan komputer tentang evolusi asteroid dan data dari asteroid yang diketahui, tim dari AS itu telah menyelidiki dari mana asteroid itu berasal.

Mereka juga bisa memperkirakan seberapa sering "peristiwa Chicxulub" ini terjadi. Saat ini sebagian besar peneliti mulai sepakat bahwa tabrakan asteroid lah yang menjadi penyebab punahnya dinosaurus. Hasil penelitian dipublikasikan bulan lalu di Icarus.

"Kami memutuskan untuk mencari di mana saudara dari asteroid yang menabrak Chicxulub mungkin bersembunyi," kata David Nesvorn√Ĺ, penulis utama studi tersebut.

Para peneliti lantas mempelajari sabuk asteroid utama yang terletak di antara orbit Mars dan Jupiter. Menurut NASA, sabuk ini diperkirakan berisi antara 1,1 hingga 1,9 juta asteroid berdiameter lebih dari 1 kilometer, serta jutaan asteroid yang lebih kecil.

Dengan menggunakan model komputer, mereka mempelajari bagaimana benda luar angkasa itu bisa lepas dari orbitnya di sabuk asteroid.

Para peneliti dari Southwest Research Institute (SwRI), Texas berhasil melacak asal mula asteroid yang menabrak Bumi 60 juta tahun lalu dan memusnahkan dinosaurus.

Mereka melacak jejak asal mula asteroid jutaan tahun yang lalu ini menggunakan kombinasi simulasi geologi dan komputer.

Kombinasi keduanya membuat tim peneliti SwRI bisa memecahkan misteri arkeologi dan astronomi yang sudah berlangsung jutaan tahun lalu. Salah satunya melacak jejak asteroid yang membunuh dinosaurus.

Sekitar 66 juta tahun yang lalu, sebuah asteroid besar berukuran sekitar 10 kilometer menabrak Bumi di dekat Meksiko. Benturan ini menyisakan kawah Chicxulub, berdiameter 180 kilometer di semenanjung Yukatan, Meksiko.

Peristiwa tersebut menyebabkan kepunahan massal yang memusnahkan hampir 75 persen semua spesies tumbuhan dan hewan termasuk dinosaurus non-unggas.

Kini dengan menggunakan studi pemodelan komputer tentang evolusi asteroid dan data dari asteroid yang diketahui, tim dari AS itu telah menyelidiki dari mana asteroid itu berasal.

Mereka juga bisa memperkirakan seberapa sering "peristiwa Chicxulub" ini terjadi. Saat ini sebagian besar peneliti mulai sepakat bahwa tabrakan asteroid lah yang menjadi penyebab punahnya dinosaurus. Hasil penelitian dipublikasikan bulan lalu di Icarus.

"Kami memutuskan untuk mencari di mana saudara dari asteroid yang menabrak Chicxulub mungkin bersembunyi," kata David Nesvorn√Ĺ, penulis utama studi tersebut.

Para peneliti lantas mempelajari sabuk asteroid utama yang terletak di antara orbit Mars dan Jupiter. Menurut NASA, sabuk ini diperkirakan berisi antara 1,1 hingga 1,9 juta asteroid berdiameter lebih dari 1 kilometer, serta jutaan asteroid yang lebih kecil.

Dengan menggunakan model komputer, mereka mempelajari bagaimana benda luar angkasa itu bisa lepas dari orbitnya di sabuk asteroid.